Salam perjuangan

Salam perjuangan

HATI

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW pernah bersabda sebagai berikut: “Menjadi bersihlah kamu, karena sesungguhnya Islam itu bersih.” (HR. Ibnu Hiban)

UJIAN-MU

Brngsiapa diuji lalu bersabar, dberi lalu bersyukur, dzalimi lalu memaafkan dn mnzalimi lalu bristighfar maka bg mreka kselamatan dn mreka trgolong org2 yg memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)

JALAN-MU

Bukti cinta yang kukuh kepada Allah dan Rasul-Nya ialah berjihad, Maka berjihadlah dengan harta dan nyawamu

MILIK-MU

Ya Allah KAU hampirikanlah diriku ini kepada-Mu,Ya Allah sesungguhnya hidup matiku hanya untuk-Mu, Inginku capai cinta dan redha-Mu Ya Allah(^___^).

SYURGA-MU

Ya Allah, kekuasaan-Mu tiada tandingan mana2 makhluk-Mu, Engkau jadikan siang untuk hamba-Mu mencari rezeki-Mu, Engkau jadikan malam untuk hamba-Mu beribadat kepada-Mu..(^___^)

^^

Photobucket

Recent Posts

P.Z.R

smile

Bendera Rasululullah SAW

smile

Beberapa helai rambut Rasulullah SAW

smile

Sandal-sandal (terumpah) peninggalan Rasulullah SAW tercinta

smile

Sandal-sandal (terumpah) peninggalan Rasulullah SAW tercinta

smile

;"> Sandal-sandal (terumpah) peninggalan Rasulullah SAW tercinta

smile

Cap surat Nabi SAW

smile

Kotak milik putri tercinta Nabi SAW, Sayyidah Fatimah Az-Zahra R.A.

smile

Busur Panah Nabi SAW

smile

Mangkuk tempat minum Rasulullah SAW

smile

Peninggalan gigi dan rambut Nabi..

smile

Jejak Kaki Rasulullah SAW

smile

Jubah Nabi Muhammad, Rasulullah SAW

smile

Surat Nabi SAW kepada Raja Nijashi, Raja Habsyah

smile

Surat Nabi SAW kepada rakyat Oman, Arab Selatan

smile

Surat Nabi SAW kepada Kaisar Romawi abad ke- 7

smile

Surat Rasulullah SAW pada Raja Heraclius

smile

Surat Nabi SAW kepada Raja Muqauqas, Mesir

smile

Makan Siti Aminah, Ibunda Rasululllah SAW

smile

Berbagai pedang yang pernah dimiliki Nabi dengan nama-namanya

smile

. Berbagai pedang yang pernah dimiliki Nabi dengan nama-namanya ...

smile

. Berbagai pedang yang pernah dimiliki Nabi dengan nama-namanya ...

smile

Gagang Pedang “Hatf” Nabi SAW tampak lebih jelas

smile

Kunci Ka’bah Masa Nabi Muhammad SAW

smile

Berbagai pedang yang pernah dimiliki Nabi

smile

PINTU EMAS MAKAM NABI MUHAMMAD SAW

smile

Keranda dan makam Nabi panutan alam, Nabi Muhammad SAW

smile

Beberapa helai rambut Rasulullah SAW

smile

Wadah Kotak Gigi Rasulullah SAW

smile

Butiran pasir yang diambil dari makam Nabi Muhammad SAW

smile

Jejak Kaki Rasulullah SAW

smile

Bagian dari baju gamis Nabi SAW yang sudah sobek

smile

Baju gamis Nabi SAW yang lusuh dan robek-robek

smile

.

Topi Besi Rasulullah SAW

smile

the_clothers__staff_of_prophet_muhammad.jpg



Friday, January 14, 2011

Bertanayalah sebelum anda di tanya



Dalam pertemuan kita bulan ini, saya ingin memulakannya dengan berkongsi tiga ayat al-Qur’an dari surah al-Baqarah. Ia seperti berikut:

Ayat Pertama:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka bertanya: “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” [al-Baqarah 2:30]

Ayat Kedua:
Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berkata: “Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang mati?” Allah berfirman: “Adakah engkau belum percaya (kepada kekuasaanku)?” Nabi Ibrahim menjawab: “Bahkan (aku percaya dan yakin), akan tetapi (aku memohon yang demikian ialah) supaya tenteram hatiku (yang amat ingin menyaksikannya).”



Allah berfirman: “(Jika demikian) ambillah empat ekor burung, kemudian kumpulkanlah olehmu (dan cincanglah semuanya). Setelah itu letakkanlah di atas tiap-tiap sebuah bukit sebahagian daripadanya. Kemudian serulah burung-burung itu nescaya semuanya akan datang kepadamu dengan segera dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” [al-Baqarah 2:260]

Ayat Ketiga:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): “Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyahut seruan-Ku (dengan mematuhi perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku supaya mereka menjadi baik serta betul.” [al-Baqarah 2:186]

Ayat pertama berkenaan awal penciptaan manusia, ayat kedua berkenaan Nabi Ibrahim, ayat ketiga berkenaan umat Muhammad. Di antara ketiga-tiga ayat di atas, dapatkah para pembaca sekalian menangkap satu kesamaan?

Kesamaannya ialah, ia berbentuk pertanyaan atau soalan. Dalam ayat pertama para malaikat bertanya: “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu……” Dalam ayat kedua Nabi Ibrahim bertanya: “Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang mati?” Dalam ayat ketiga para sahabat Rasulullah bertanya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku……

Di antara ketiga-tiga pertanyaan ini, dapatkah para pembaca sekalian menangkap satu kesamaan? Kesamaannya ialah mereka bertanya bukan kepada sebarangan orang, tetapi bertanya kepada Allah Tuhan sekalian alam.

Pengajaran penting yang ingin saya sampaikan dari ketiga-tiga ayat di atas ialah berani untuk bertanya. Dalam ketiga-tiga ayat di atas, pertanyaan ditujukan kepada Allah, Tuhan yang Agung lagi Berkuasa. Sengaja Allah merakam pertanyaan-pertanyaan ini dalam al-Qur’an bagi menunjukkan keberanian para malaikat, Nabi dan para sahabat Rasulullah bertanya. Bertanya bukan untuk meremehkan, bertanya bukan untuk berdebat, akan tetapi bertanya untuk mengetahui dan memahami.

Berani Bertanya.

Ini menjadi topik saya pada bulan ini kerana pada pengamatan saya, sebahagian umat Islam takut atau segan-segan untuk bertanya. Mereka bukan takut kepada Allah, bukan takut kepada malaikat, para Rasul atau Nabi tetapi takut kepada manusia-manusia biasa yang memegang sehelai dua kelulusan kertas yang memberikan gelaran ustaz dan ustazah di sisi nama mereka. Ketakutan ini menyebabkan mereka mengangguk kepala kepada apa sahaja yang disampaikan oleh para agamawan tanpa berani untuk bertanya.

Bertanya yang saya maksudkan bukanlah untuk menunjukkan kehebatan diri atau meremeh dan berdebat dengan para agamawan. Ini dilarang oleh Rasulullah: “Jangan mempelajari ilmu untuk berbangga-bangga di hadapan para ulama’, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk memilih majlis yang terbaik (demi mendapat pujian orang). Sesiapa melakukan hal itu maka nerakalah tempatnya.” [Shahih Ibn Hibban, no: 77].

Namun yang saya maksudkan ialah bertanya untuk mengetahui dalil dan hujah, agar apa yang dianggukkan itu benar-benar memiliki dasar dalam agama. Juga bertanya tentang sumber seperti nama tokoh dan kitab rujukan agar dapat disemak kembali demi memperoleh keyakinan yang lebih jitu. Tidak ketinggalan, bertanya untuk memahami atau membetulkan apa-apa salah faham. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang terpuji yang patut dijadikan kebiasaan dan keberanian oleh semua umat Islam.

Berani untuk bertanya amatlah penting kerana pada masa kini terdapat segelintir agamawan yang menyampaikan hukum, ajaran dan petua agama tanpa berdasarkan dalil yang sahih. Atau mereka dengan mudah mengatakan “Ini adalah pendapat dalam Mazhab asy-Syafi’e” tanpa pendapat itu benar-benar berasal dari mana-mana tokoh asy-Syafi’eyyah. Bahkan ada yang menjadikan dalil akal di atas dalil wahyu, sunnah masyarakat di atas sunnah Rasulullah.

Para pembaca sekalian hendaklah berani bertanya sebelum anda sendiri kelak ditanya oleh Allah sebagaimana firman-Nya: “Dan janganlah engkau mengikut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya; sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu tetap akan ditanya tentang apa yang dilakukannya.” [al-Isra’ 17:36]

Berbisik Apa Itu?



Alhamdulillah kita bertemu kembali. Pada kali ini saya ingin berkongsi sebuah ayat bersama pada pembaca sekalian, iaitu firman Allah yang bermaksud:

Tidakkah engkau ketahui bahawa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Tidaklah berbisik tiga orang melainkan Dia (Allah) yang keempat dan tidak pula lima orang melainkan Dia yang keenam; dan tidak kurang daripada itu serta tidak pula lebih melainkan Dia beserta mereka. Kemudian Dia khabarkan kepada mereka apa yang mereka kerjakan pada Hari Kiamat (kelak). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui setiap sesuatu. [Surah al-Mujadilah, ayat 7]
2_boys_whispering.jpg
Ayat di atas menerangkan hakikat tentang orang yang berbisik-bisik. Berbisik ialah satu bentuk komunikasi secara rahsia di mana ia dilakukan tanpa pengetahuan orang lain. Namun, sekalipun orang lain tidak mengetahuinya, Allah tetap mengetahuinya.

Dalam ayat di atas, Allah menyedarkan kita akan hakikat ini, di mana tidaklah sedikit atau banyak orang yang berbisik-bisik sesama mereka melainkan Allah hadir sama di antara mereka. Maksud kehadiran di sini bukanlah secara zat, tetapi secara pengetahuan. Ertinya Allah mengetahui apa yang mereka bisik-bisikkan.




Apa yang kita bisik-bisikkan itu akan dikhabarkan semula oleh Allah pada Hari Kiamat. Seandainya yang kita bisik-bisikkan itu sesuatu yang baik, ia akan menjadi sumber pahala kepada kita dan rakan-rakan sebisik. Akan tetapi seandainya yang kita bisik-bisikkan itu sesuatu yang tidak baik, umpama menyebarkan fitnah, gossip, berita dusta dan sebagainya, ia akan menjadi penjana azab bagi kita dan rakan-rakan sebisik.


Bisikan Moden.

Apabila dikatakan berbisik, lazimnya ia memiliki aksi tersendiri. Ia dilakukan dengan suara yang perlahan, dibisikkan terus ke telinga pendengar. Kerap kali ia diikuti dengan gerak badan yang membongkok, sambil mata menjeling ke kiri dan kanan memerhatikan sama ada orang yang tidak diingini mendengar atau tidak. Ini dinamakan bisikan tradisional.

Pada masa kini, berbisik-bisik atau berkomunikasi secara rahsia dapat dilakukan dengan pelbagai cara, tidak lagi terhad kepada suara yang perlahan, badan yang membongkok dan mata yang menjeling. Kini berbisik dapat dilakukan melalui panggilan talifon, surat atau nota, sistem pesanan ringkas (SMS), emel, chat dan sebagainya. Pelbagai cara yang moden, namun objektifnya tetap sama, iaitu berkomunikasi secara rahsia.

Justeru dalam rangka kita berbisik, sama ada secara tradisional atau moden, jangan lupa bahawa Allah tetap hadir sama. Apabila kita menalifon jiran di sebelah kanan menceritakan tentang kerenah jiran di sebelah kiri, ingat! Allah hadir sama. Apabila kita menulis surat kepada kakak menceritakan sikap ayah yang selalu balik lewat malam, ingat! Allah hadir sama.

Apabila kita menSMS rakan sekuliah berkenaan pensyarah yang dibenci, ingat! Allah hadir sama. Apabila kita mengemel kepada rakan-rakan sekerja gambar rumah menteri yang tersangat mewah, ingat! Allah hadir sama. Apabila kita chatting dengan rakan luar negara berkenaan kezaliman pemimpin negara masing-masing, ingat! Allah hadir sama.

Mudah kata, dalam rangka kita berbisik dengan apa jua cara, ingat! Allah hadir sama. Lebih dari itu, berbisik sebenarnya adalah satu ketagihan. Sekali ia bermula, ia akan terus berlanjutan. Seorang bermula, ramai lain akan menyambutnya dan menyebarkan. Justeru amat penting agar anda jangan menjadi orang yang pertama memulakan bisikan. Jika menerima bisikan, padamkan ia serta merta. Ciri ketagihan bisikan dikhabarkan oleh Allah:

Tidakkah engkau melihat orang-orang yang dilarang berbisik-bisik, kemudian mereka kembali kepada larangan itu. Mereka berbisik-bisik dengan dosa, kezaliman dan menderhakai Rasul (menderhakai ajaran Islam). [Surah al-Mujadilah, ayat 8]

Berbisik-bisik menjadi satu ketagihan kerana terdapat sesuatu atau seseorang yang sentiasa menggalakkannya, menyuruhnya dan memberi tenaga ke arahnya. Tidaklah seseorang itu berbisik melainkan pasti terasa kehadiran sesuatu atau seseorang dalam dirinya yang sentiasa menggalakkan dirinya berbisik. Penggalak itu tidak lain tidak bukan ialah syaitan. Rahsia ini telah dibocorkan oleh Allah dalam firman-Nya:

Sesungguhnya berbisik-bisik (dengan dosa, kezaliman dan menderhakai ajaran Islam) tidak lain hanyalah dari syaitan supaya berduka cita orang yang beriman. Akan tetapi (bisikan itu) tidaklah memudaratkan mereka sedikit jua melainkan dengan izin Allah. Kepada Allah-lah bertawakkal orang-orang yang beriman. [Surah al-Mujadilah, ayat 10]


Bisikan Yang Dibolehkan.

Berbisik tidaklah dilarang secara mutlak. Pengecualian diberikan kepada bisikan yang mengandungi mesej kebaikan dan taqwa. Firman Allah: Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berbisik-bisik, maka janganlah berbisik-bisik dengan dosa, kezaliman dan menderhakai Rasul (menderhakai ajaran Islam). Sebaliknya berbisiklah dengan kebaikan dan taqwa. Takutlah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kamu akan dihimpunkan (pada Hari Kiamat kelak). [Surah al-Mujadilah, ayat 9]

Justeru boleh, malah dianjurkan berbisik sama ada bisikan tradisional atau moden dalam rangka memberi nasihat, teguran dan peringatan yang selari dengan ajaran Islam. Ada pun selain itu, maka ingat! Allah hadir bersama anda.

Saturday, December 25, 2010

Mendapat Hati Yang Tenang



Sebelum ini, telah disebutkan kepada kita bahawa dengan zikrullah itu hati kita akan tenang dengan perkara-perkara dunia. Ia membawa maksud selagi hati kita dapat terhubung dengan Tuhan, nescaya diri kita tidak dapat dipengaruhi dengan perkara-perkara dunia yang melalaikan serta menyusahkan. Begitulah yang kita diberitahu. Namun, bagaimana boleh dihubungkan kedua-duanya iaitu dengan zikrullah, boleh kita dapat ketenangan dunia? Bagaimana zikrullah itu boleh menenggelamkan rasa bimbang, risau, cemas dan takut kita kepada perkara dunia? Mana tidaknya, sakit, miskin, hilang jawatan, dimaki atau dicerca orang, dan berbagai lagi musibah dunia, bukankah ia menyusahkan? Bukankah itu menggugat hati sehingga datang bimbang, cemas dan takut? Oleh itu marilah kita perhatikan hubungkait antara keduanya agar benar-benar kita faham bagaimana zikrullah boleh menjadi penawar kepada kesusahan dunia.

Di sini, zikrullah itu membawa pengertian mengingati Allah dalam ertikata yang hati itu dapat menghayati sifat-sifat dan peranan Tuhan. Dibawakan contoh, katakan seorang itu miskin. Dia selalu kesempitan wang. Dia nak makan pun susah. Nak belanja-belanja keluarga pun susah. Tapi, oleh kerana hatinya sudah menghayati Tuhan, dia dapat merasakan Tuhan Maha Pemberi Rezeki. Pada Tuhan, dia bertawakal. Dengan bersandarkan pada sifat Tuhan Maha Pemberi Rezeki, dia jadi yakin. Dia jadi orang yang boleh tenang menghadapi kemiskinan. Dia tahu rezeki Tuhan itu luas dan Allah tidak akan mensia-siakan hambaNya. “InsyaAllah, Tuhan ada, Dialah yang Maha memberi rezeki”, kata hati kecilnya. Dia berusaha juga tapi dia tidak bergantung pada usahanya. Bagi dia rezeki Tuhan ada di mana-mana dan sudah ditetapkan bahagian untuk orang sepertinya.


Contoh lain, seorang itu jatuh sakit. Sakit itu menyusahkan. Boleh jadi tidak tenang dengan sakit apatah lagi makan minum serta tidur selalu terganggu. Malah kerja harian juga terganggu dan di waktu tertentu hendak bersembahyang pun terganggu juga. Namun, seorang yang berzikrullah, dapat merasakan Tuhan yang memberi sakit dan Dialah yang menyembuhkan. Rasa itulah yang memberi penawar kepada kesusahan sakitnya selama ini. Dia jadi tenang atas kerana yakin Tuhan yang memberi sakit dan Tuhan jugalah yang akan menyembuhkan. Sudah pasti keyakinan itu menjadikan dia faham maksud Tuhan memberi sakit kepadanya. Sudah pasti juga dia faham bahawa kalau Tuhan kehendaki, bila-bila masa Tuhan boleh sembuhkan. Tinggal lagi yang menjadi soal bukan tempoh lama atau sekejap masa sakit, atau soal ringan atau berat ujian sakit. Soalnya adalah sejauhmana kuat hubungannya dengan Tuhan sehingga sakit itu boleh menjadi hiburan kepadanya. Sakit bukan sakit lagi tetapi dirasakan sebagai hiburan dari Tuhan kepada hambanya.

Yang paling besar juga, kesusahan dalam miskin dan sakit itu boleh dihadapi dengan tenang kerana dia sudah merasa dirinya itu dimiliki Tuhan. Inilah sebahagian daripada zikrullah. Rasa dimiliki Tuhan ini membuatkan seseorang itu menyerah hati dan dirinya kepada Tuhan. Dia merasakan Tuhan boleh buat apa sahaja terhadap dirinya kerana dia adalah milik Tuhan. Sebagai hamba Tuhan yang dimiliki Tuhan, terpulanglah kepada Tuhan nak sakitkan, nak miskinkan atau nak susah-susahkan hidupnya di dunia. Berhak bagi Tuhan berbuat begitu. Hatinya boleh berkata, “tidak sekali-kali bagi seorang hamba boleh menolak apa sahaja ketentuan dari Tuhannya.” Berbahagialah orang yang boleh merasakan sedemikian. Di situlah datangnya ketenangan kepada orang seperti itu. Asasnya adalah zikrullah tadi.

Begitulah kisahnya, jika seseorang sudah dapat menghayati sifat Tuhan. Hatinya akan sentiasa dalam ketenangan bilamana menghadapi perkara-perkara dunia yang melalaikan serta menyusahkan. Hatinya tidak cacat atau terpengaruh dengan dunia tersebut disebabkan kuat rasa-rasa hatinya dengan Tuhan. Banyak lagi contoh yang boleh disebutkan di sini tetapi cukuplah dengan dua contoh di atas untuk panduan kita bersama. Sekian.

(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan "zikrullah". Ketahuilah dengan "zikrullah" itu, tenang tenteramlah hati manusia. Orang-orang yang beriman dan beramal soleh, beroleh kebahagiaan yang amat menggembirakan dan tempat kembali yang sebaik-baiknya. (Ar-Rad: 28-29)

Dialah yang menurunkan Sakinah (ketenangan) ke dalam hati orang-orang yang beriman supaya mereka bertambah iman dan yakin berserta dengan iman dan keyakinan mereka yang sedia ada; pada hal Allah menguasai tentera langit dan bumi (untuk menolong mereka) dan Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana. (Al-Fath: 4)


Tuesday, December 21, 2010

Haji Dan Umrah Berulang Kali

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji dan orang yang berumrah (mereka adalah) para delegasi Allah. Allah memanggil mereka lalu mereka memenuhi (panggilan itu). Mereka berdoa kepada-Nya lalu Dia mengabulkannya.”


Dalam sebuah riwayat yang lain baginda menganjurkan: "Nikmatilah Baitullah ini...". Pada ketika yang lain baginfa mengesyorkan: "Hubungkanlah di antara haji dan umrah kerana kedua-duanya dapat menghapuskan kefakiran dan dosa-dosa seagaimana relau tukang besi dapat menyisihkan kotoran besi, emas dan perak. Sementara haji yang mabrur tidak ada pahalanya selain syurga.

Amalan umrah tidak ketinggalan dari anjuran ini: “Satu umrah yang diikuti dengan umrah berikutnya adalah menjadi penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara kedua-duanya dan haji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali syurga.”

Demikian beberapa di antara sekian banyak hadis yang menganjurkan ibadah haji dan umrah yang sempat saya salin dari kitab Sahih al-Targib wa al-Tarhib li al-Munziri oleh Syaikh al-Albani. Hadis-hadis ini menjadi telaah saya setelah beberapa hari sebelum itu seorang saudara saya dengan begitu ceria mengkhabarkan kepada saya bahawa dia akan berangkat menunaikan ibadah haji untuk sekian kalinya pada tahun 2010 ini.

Saya menyambut keceriaanya itu secara hambar lagi dingan. Apa yang segera terlintas di fikiran saya ialah: "Berapa kali nak pergi haji? Bukankah lagi bagus jika duit - yang paling kurang RM10,000 - digunakan untuk pendidikan anak-anaknya yang masih bersekolah dan membantu orang miskin yang lain?" Lintasan fikiran ini saya terjemahkan dengan ucapan ringkas kepada saudara saya itu: "Owh! Ok!", lalu terus beralih kepada subjek persembangan yang lain.

Saya sebenarnya bukan anti haji dan bukan anti umrah. Akan tetapi teguran Syaikh Yusuf al-Qardawi berikut ini masih segar dalam ingatan saya. Di bahagian awal bukunya Fiqh al-Awlawiyat, beliau menulisa:

"Pada musim haji setiap tahun, saya saksikan banyak sekali kaum muslimin yang tergolong kaya dan mampu, pergi menunaikan ibadah haji untuk kali kedua, ketiga dan selanjutnya, Banyak juga di kalangan mereka yang menambahkan ibadah haji sunat itu dengan terlebih dahulu menunaikan umrah pada bulan Ramadhan. Mereka tidak segan-segan untuk mengeluarkan wang ringgit demi tujuan tersebut, malah ada kalanya banyak di antara mereka yang mengajak beberapa orang miskin untuk turut pergi bersama mereka menunaikan haji dan umrah tersebut. Padahal Allah SWT tidak membebankan mereka (orang miskin) untuk menunaikan haji atau umrah kerana mereka tidak memiliki kemampuan dan kesanggupan (kewangan).

Akan tetapi kamu cuba untuk minta kepada mereka untuk menyalurkan semua dana dan peruntukan yang mereka belanjakan pada setiap tahun itu agar didermakan kepada tabung para pejuang (mujahidin) yang sedang memerangi penceroboh dan penjajah Israil di Palestin, untuk tabung mujahidin di Bosnia yang sedang menghadapi serangan pengganas Serbia.

Atau untuk tabung dakwah Islamiah bagi menghadapi usaha-usaha Kristianisasi di wilayah-wilayah Indonesia, Bangladesh, serta di negara-negara lain di benua Asia dan Afrika, atau kamu meminta kepada mereka untuk menyalurkan peruntukan tersebut bagi membangunkan pusat-pusat tarbiyah dan pendidikan dakwah Islamiah, melahirkan para pendakwah yang mantap lagi berpengetahuan luas, ataupun untuk usaha-usaha penyusunan buku-buku Islam dan terjemahannya. (Jika dengan segala permintaan atau cadangan ini), pasti kebanyakan mereka akan menolehkan kepalanya ke arah lain kerana enggan dan tidak setuju dengan cadangan yang kamu berikan tadi. Bahkan mungkin ada di kalangan mereka yang akan mengherdik dan mencemuh kamu.

Begitulah umumnya kefahaman masyarakat kita mengenai ajaran Islam, padahal secara terang dan jelas al-Qur'an al-Karim telah menggariskan bahawa amalan jihad itu adalah lebih utama daripada amalan ibadah haji, seperti firman Allah SWT:

Adakah kamu sifatkan hanya perbuatan memberi minum kepada orang-orang yang mengerjakan Haji dan (hanya perbuatan) memakmurkan Masjidilharam itu sama seperti orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat serta berjihad pada jalan Allah? Mereka (yang bersifat demikian) tidak sama di sisi Allah dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.

(Sesungguhnya) orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka adalah lebih besar dan tinggi darjatnya di sisi Allah (daripada orang-orang yang hanya memberi minum orang-orang Haji dan orang yang memakmurkan masjid sahaja) dan mereka itulah orang-orang yang berjaya.[al-Taubah 9:19-20]”

Sekian al-Qardawi. Di sini timbul persoalan, bagaimana hendak dipertimbangkan kata-kata di atas berbanding hadis-hadis yang telah saya kemukakan di awak catatan ini? Bukankah hadis-hadis tersebut menganjurkan haji dan umrah dengan anjuran yang besar dan ia tidak menghadkannya kepada haji dan umrah yang pertama sahaja?


Agaknya di sinilah letaknya kebenaran kata-kata hikmah: “Setiap orang beramal dengan kadar ilmu masing-masing”. Bagi kebanyakan orang, kadar ilmu mereka sekadar mengetahui keutamaan amalan haji dan umrah lalu mereka berusaha untuk melaksanakannya sekerap yang mampu. Ini, berdasarkan hadis-hadis di atas, tidak boleh dianggap satu kesalahan. Bagi sebahagian yang lain, kadar ilmu mereka berada pada kemampuan menilai di antara dua atau lebih amalan, yang manakah patut diberi prioriti, lalu mereka berusaha untuk melaksanakan apa yang berada pada prioriti teratas. Ini juga satu kebenaran.

Bagaimana pula dengan anda wahai para pembaca yang budiman sekalian, adakah anda seperti mana kebanyakan orang atau seperti mereka yang mengamalkan Fiqh al-Awlawiyat dalam bab haji, umrah dan selainnya?

Berjalan-jalan




Salam kepada semua yang ziarah....
Baca2lah kalau ade artikle yang menarik post2 la...^^

Hari-hari kita berjalan kaki. Ke kafeteria, ke bilik kuliah, ke perhentian bas, ke pejabat, ke pasar malam, ke masjid dan pelbagai lagi. Berjalan kaki merupakan perkara yang amat lazim sehingga saya yakin sedikit di antara kita yang pernah terfikir, wujudkah apa-apa tunjuk ajar dan bimbingan Islam tentang hukum dan adab berjalan? Tentu saja ada. Maka peluang ini, saya ingin berkongsi kepada para pembaca sekalian hukum dan adab berjalan yang digariskan oleh Islam.

Pertama: Menjauhi Sikap Sombong

Apabila berjalan, jauhi sikap sombong. Sikap buruk ini boleh timbul kerana beberapa sebab, seperti merasakan diri sendiri hebat, bangga dengan fesyen pakaian dan aksesori yang berjenama lagi terkini, perasan diri sendiri paling cantik lagi ramping dan pelbagai lagi. Sikap sombong ini diterjemahkan kepada gaya berjalan yang tertentu, atau mungkin saja gaya yang biasa tetapi hati yang angkuh, muka yang memandang ke atas, mata yang menjeling ke kiri-kanan dan sebagainya.

Sikap seperti ini hukumnya dilarang oleh Islam. Alllah SWT berfirman: "Dan janganlah engkau memalingkan mukamu (kerana memandang rendah) kepada manusia dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong; sesungguhnya Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri". [Surah Luqman, ayat 18].

Dalam ayat yang lain Allah mengingatkan: "Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong, kerana sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembusi bumi dan engkau tidak akan dapat menyamai setinggi gunung-ganang." [Surah al-Isra', ayat 37]. Jika kita menyalahi perintah ini, yakni tetap berjalan dengan berlagak sombong, Allah meneruskan: "Tiap-tiap satu perintah itu, menyalahinya adalah kejahatan yang dibenci di sisi Tuhanmu." [Surah al-Isra', ayat 38].

Sementara itu Rasulullah SAW pula mengingatkan: "Ketika seorang lelaki berjalan dengan memakai pakaian yang membuat dirinya ujub, rambutnya disikat rapi, tiba-tiba dia ditelan oleh bumi dan meronta hingga Hari Kiamat" [Sahih al-Bukhari, no: 5789]. Oleh itu berjalanlah dengan sikap dan gaya yang serba merendah diri. Ini adalah sikap yang mulia kerana: "...tidaklah seseorang bersifat rendah diri kerana Allah melainkan Allah menaikkan darjatnya." [Shahih Muslim, no: 2588]

M

Kedua: Berjalan Dengan Bertenaga.

Para sahabat menerangkan, apabila Rasulullah berjalan, baginda berjalan dengan langkah yang sedikit laju, seolah-olaj sedang turun bukit padahal permukaan adalah mendatar. Cara berjalan seperti ini memberi gambaran bahawa baginda orang yang bertenaga, bersemangat, bermotivasi dan berani. Malah cara berjalan seperti ini juga secara tidak langsung merupakan senaman yang baik untuk semua organ dan anggota badan. 'Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Apabila baginda (Rasulullah) berjalan, maka baginda condong ke hadapan seolah-olah sedang turun ke tempat yang lebih rendah. Aku tidak pernah melihat ada orang yang seperti baginda baik sebelum mahupun sesudah ini." [Shahih Sunan al-Tarmizi, no: 3637]

Abu Ihsan al-Atsari menjelaskan: "Nabi SAW apabila berjalan, baginda berjalan dengan tegar. Maksudnya baginda mengangkat kedua-dua kakinya di atas tanah kerana tegarnya baginda berjalan, seakan-akan baginda bertumpu pada pangkal telapak kakinya. ...Gaya jalan seperti ini sesuai dengan roh islam kerana padanya nampak kekuatan seorang muslim di hadapan manusia (lain). Seorang mukmin yang lebih kuat lebih dicintai Allah berbanding mukmin yang lemah" [Panduan Amal Sehari Semalam, ms. 292]

Ada sebahagian kita yang apabila berjalan, mengheret selipat, sandal atau kasutnya di atas permukaan sehingga mengeluarkan bunyi. Seolah-olah terdapat beban beberpa kilogram di atas kedua-dua kaki sehingga tidak mampu di angkat ketika membuka langkah berjalan. Cara berjalan seperti ini menggambarkan orang yang malas, tidak bersemangat, tidak bermotivasi lagi lemah. Tentu saja ia bukan merupakan cara berjalan kita muslimin dan muslimat.

M

Ketiga: Sesekali Tidak Beralas Kaki.

Islam menganjurkan kita untuk sekali sekala berjalan tanpa memakai apa-apa. Tujuannya ialah untuk mengingatkan kita kepada orang yang susah dan bersyukur atas nikmat alas kaki yang sedia dimiliki. Bahkan adakalanya bukan sekadar satu alas kaki tetapi pelbagai bilangan dan jenama merangkumi kasut, sandal dan selipar. Justeru sekali-sekala "berkaki-ayam" dapat merendahkan diri, mensederhanakan gaya hidup dan mengingatkan kita kepada orang yang sememangnya tidak memiliki apa-apa alas kaki. Fudhalah bin Ubaid menerangkan: "Nabi SAW memerintahkan kami untuk tidak memakai alas kaki sekali-sekala." [Shahih Sunan Abu Daud, no: 4160]

M

Keempat: Muslimat Berjalan Di Tepi

Di antara adab Islam ialah wanita - yakni para muslimat - berjalan di tepi lorong. Adab yang sopan lagi mulia ini mampu mengelakkan daripada berlaku pelanggaran, pergeseran, percampuran atau pemandangan dari kaum lelaki yang lazimnya berjalan di tengan lorong. Rasulullah SAW berpesan: "Bahagian tengah lorong bukan untuk kaum wanita". [Shahih al-Jami' al-Shagheir, no: 5425]

Wednesday, December 15, 2010

Indahnya Akhlak Rasulullah..



Salam semua....ingin menyatakan betapa hebatnya akhlak Rasulullah yang menyerupai Al-Quran...
Iqrak!!^_^

Suatu hari, Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Cantik sungguh buahnya. Sesiapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira.

Hadiah itu dimakan oleh baginda Rasulullah SAW seulas demi seulas sambil tersenyum. Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat. Tidak kira sedikit atau banyak. Namun kali ini tidak. Tidak seulas pun diberikan kepada para sahabat. Rasulullah SAW terus makan sambil tersenyum, sehingga habis kesemua limau itu. Kemudian, wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari Rasulullah SAW.

Sahabat - sahabat agak kehairanan dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan

"Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada antara kalian yang akan mengenyet mata atau memarahi wanita berkenaan. Saya bimbang hatinya tersinggung. Sebab itu saya habiskan kesemuanya."

Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda tidak akan memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula. Wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa. Mengapa? Sebenarnya dia bertujuan ingin mempermain-mainkan Rasulullah SAW dan para sahabat baginda dengan hadiah limau masam itu. Malangnya tidak berjaya. Rancangannya ditewaskan oleh akhlak mulia Rasulullah SAW.

Hanya Sampingan..^_^

:::Andai Bertemu dan Berpisah Kerana Allah:::

Ulama Pewaris Nabi

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More