Salam perjuangan

Salam perjuangan

HATI

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW pernah bersabda sebagai berikut: “Menjadi bersihlah kamu, karena sesungguhnya Islam itu bersih.” (HR. Ibnu Hiban)

UJIAN-MU

Brngsiapa diuji lalu bersabar, dberi lalu bersyukur, dzalimi lalu memaafkan dn mnzalimi lalu bristighfar maka bg mreka kselamatan dn mreka trgolong org2 yg memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)

JALAN-MU

Bukti cinta yang kukuh kepada Allah dan Rasul-Nya ialah berjihad, Maka berjihadlah dengan harta dan nyawamu

MILIK-MU

Ya Allah KAU hampirikanlah diriku ini kepada-Mu,Ya Allah sesungguhnya hidup matiku hanya untuk-Mu, Inginku capai cinta dan redha-Mu Ya Allah(^___^).

SYURGA-MU

Ya Allah, kekuasaan-Mu tiada tandingan mana2 makhluk-Mu, Engkau jadikan siang untuk hamba-Mu mencari rezeki-Mu, Engkau jadikan malam untuk hamba-Mu beribadat kepada-Mu..(^___^)

^^

Photobucket

Recent Posts

P.Z.R

smile

Bendera Rasululullah SAW

smile

Beberapa helai rambut Rasulullah SAW

smile

Sandal-sandal (terumpah) peninggalan Rasulullah SAW tercinta

smile

Sandal-sandal (terumpah) peninggalan Rasulullah SAW tercinta

smile

;"> Sandal-sandal (terumpah) peninggalan Rasulullah SAW tercinta

smile

Cap surat Nabi SAW

smile

Kotak milik putri tercinta Nabi SAW, Sayyidah Fatimah Az-Zahra R.A.

smile

Busur Panah Nabi SAW

smile

Mangkuk tempat minum Rasulullah SAW

smile

Peninggalan gigi dan rambut Nabi..

smile

Jejak Kaki Rasulullah SAW

smile

Jubah Nabi Muhammad, Rasulullah SAW

smile

Surat Nabi SAW kepada Raja Nijashi, Raja Habsyah

smile

Surat Nabi SAW kepada rakyat Oman, Arab Selatan

smile

Surat Nabi SAW kepada Kaisar Romawi abad ke- 7

smile

Surat Rasulullah SAW pada Raja Heraclius

smile

Surat Nabi SAW kepada Raja Muqauqas, Mesir

smile

Makan Siti Aminah, Ibunda Rasululllah SAW

smile

Berbagai pedang yang pernah dimiliki Nabi dengan nama-namanya

smile

. Berbagai pedang yang pernah dimiliki Nabi dengan nama-namanya ...

smile

. Berbagai pedang yang pernah dimiliki Nabi dengan nama-namanya ...

smile

Gagang Pedang “Hatf” Nabi SAW tampak lebih jelas

smile

Kunci Ka’bah Masa Nabi Muhammad SAW

smile

Berbagai pedang yang pernah dimiliki Nabi

smile

PINTU EMAS MAKAM NABI MUHAMMAD SAW

smile

Keranda dan makam Nabi panutan alam, Nabi Muhammad SAW

smile

Beberapa helai rambut Rasulullah SAW

smile

Wadah Kotak Gigi Rasulullah SAW

smile

Butiran pasir yang diambil dari makam Nabi Muhammad SAW

smile

Jejak Kaki Rasulullah SAW

smile

Bagian dari baju gamis Nabi SAW yang sudah sobek

smile

Baju gamis Nabi SAW yang lusuh dan robek-robek

smile

.

Topi Besi Rasulullah SAW

smile

the_clothers__staff_of_prophet_muhammad.jpg



Friday, May 27, 2011

Kedatangan Seorang Ulama Berketurunan Nabi Muhammad yang ke-39



Assalamualaikum ana ucapkan kepada semua pengunjung
yang sudi mengunjungi blog ana...
Kali ini ana nak cite tentang kuliah yang di sampaikan oleh
Al Habib Abdul Rahman Ali Al Masyhur yang juga berketurunan
Nabi Muhammad yang ke 39..........

Tidak lupa juga ana kepada Al Habib Naqjamudin Othman Al Dikhir iaitu
Mudir Madrasah Darul Mustafa Caw. Kuala Lumpur.....
Beliau datang bersama Syeikh Al Masyhur bagi menterjemah apa yang
di sampaikannya.....

Sebelum ini Habib Abdul Rahman Ali Al Mashyur ke Indonesia selama sebulan
bagi menyampaikan kuliah beliau.Kini beliau telah memilih Negeri Kedah yang
salah satu terkenal sebagi pusat ilmu untuk beliau menyampaikan kuliah.Allahuakbar
begitu bersemangat para jemaah dari seluruh daerah datang untuk mendengar kuliah beliau.Kuliah beliau start pkul 9:15 mlm dan abis pada jam 11mlm....


Menjamah sedikit makanan setelah selesai kuliah beliau



Para jemaah berebut rebut untuk berasalaman dengan Al Habi Abdul Rahman Ali Al Mashyur


Sambutan yang cukup meriah dengan selawat ka atas Nabi....



Penyampaian sagu hati kepada Syeikh Al Mashyur daripada AJK Surau Perwaja


Doa seorang Ulama yang di pelihara oleh Allah...MASYALLAH!!


Keberangkatan beliau untuk menterjemahkan salah satu kitab di Masjid Bukhary pada 28/5/11......

Itulah sedikit sabanyak gambar yang ana sempat tangkap....
Kalau nak tgk lagi gambar boleh lah bukak facebook ana yang tertera pada tepi blog tue...^^
Rasanya itu sahaja yang dapat ana citerkan kepada pengunjung semua...
Ana undur diri dulu....
Moga2 gambar di atas dapat memberi keinsafan yeww...INSYAALLAH.!!
Salam

Saturday, April 30, 2011

Dakwah kepada Allah: Antara Sebab Dan Akibat


Risalah dari Prof. DR. Muhammad Badi, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 02-12-2010
Penerjemah:
Abu ANaS
______
Segala puji bagi Allah, salawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan… selanjutnya:
Tidak ada keraguan tentunya bahwa dakwah kepada Allah SWT dalam semua dimensinya harus berjalan sesuai dengan aturan utama yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw, dan Allah SWT telah memberikan takhlif kepada kita untuk menunaikan dakwah ini, sebagaimana telah menyerahkan tanggung jawab penting kepada kita, bahkan secara tegas Allah SWT menekankan bahwa semua makhluk tidak diberikan beban kecuali sesuai dengan kesanggupan dan kemampuannya, karena itu, dakwah kepada Allah dalam berbagai dimensi dan sarananya adalah suatu kewajiban , sebagaimana yang difirmankan Allah SWT:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (An-Nahl:125)
Sesuai dengan kemampuannya, setiap individu muslim berkewajiban menunaikan dakwah ini; baik pria ataupun wanita, tidak ada alasan untuk menggugurkan perintah ini walaupun memiliki udzur (alasan). Allah SWT berfirman:
لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلا عَلَى الْمَرْضَى وَلا عَلَى الَّذِينَ لا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka Berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (At-Taubah: 91)
Karena tugas ini merupakan kepanjangan tangan dari tugas yang dalam syariat Islam sejak kita menyerahkan diri untuk Allah SWT, Tuhan semesta alam.
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf:108)
Bahkan jinpun memahami akan tugas ini, sejak dibacakan ayat Al-Qur’an, dan mereka langsung menunaikan tugas ini..
فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ
“Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan”. (Al-Ahqaf:29)
Dan Nabi tercinta saw telah menunaikan tugas ilahi ini dalam segala situasi dan kondisinya, memanfaatkan semua kemungkinan yang tersedia, dan bahkan pada saat beliau di Mekah Al-Mukarramah, saat bersama dengan umat Islam menghadapi kezhaliman dan penindasan sehingga beliau bersabda:
من يؤويني حتى أبلغ دعوة ربي؟
“Siapa yang mau membela dan melindungiku sehingga aku mampu menyapaikan dakwah Tuhanku?”
Dan belaiu masuk di bawah perlindungan Al-Muth’im bin Adi, padahal dia adalah seorang musyrik, namun dengan memanfaatkan salah satu nilai-nilai positif masyarakat jahili yaitu menghormati tetangga, beliau juga melakukan aliansi dengan semua kekuatan yang ada dalam masyarakat saat itu, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan dalam meraih tujuan mulia, yaitu menghilangkan kezhalimnan dari semua yang tertindas, siapa pun dia, sehingga beliau masuk dalam aliansi berkomitmen kepada semua pihak dalam berbagai kebajikan “hilful fudhul” (aliansi kebajikan) di rumah Abdullah bin Jad’an”.
Nabi saw juga memanfaatkan persatuan Arab dari berbagai kabilah di baitullah Al-Haram, begitupula persatuan di pasar-pasar, baik pasar loak, atau pasar sastra dan puisi, hal ini telah dipraktekkan oleh Nabi Nuh as seperti yang disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim; beliau menggunakan segala cara dan sarana dakwah dalam berbagai kondisinya meskipun harus menghadapi berbagai tekanan .. Allah SWT berfirman:
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلا وَنَهَارًا
“Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang”. (Nuh:5)
ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا . ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا .
“Kemudian Sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian Sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (Nuh:8-9)
Dan para generasi Islam juga telah menunaikan tugas Allah ini dengan baik; mengemban amanah risalah dan menyampaikannya dari satu generasi ke generasi lainnya, sebagaimana yang telah disampaikan kabar gembiranya oleh Rasulullah saw:
يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين
“Hendaknya yang membawa ilmu ini orang yang berada dibelakang memiliki sifat adil sehingga mampu menghilangkan berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh orang yang melampaui batas, rekayasa para pelaku kebatilan dan ta’wil para jahili”.
Sebagaimana beliau juga memberikan kabar gembira kepada kita bahwa contoh teladan ini akan tetap ada pada generasi yang senantiasa membawa dan mengemban amanah dan risalah ini hingga hari kiamat sekalipun harus menghadapi berbagai rintangan dan tekanan, sekalipun harus menghadapi syaitan-syaitan dari bangsa jin dan manusia dengan berbagai rintangan dan kendala yang dibawanya
لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خالفهم ولا من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك
“Umatku akan senantiasa tampil pada kebenaran, tidak takut akan ancaman dari orang-orang yang menentangnya dan celaan mereka hingga datang keputusan Allah dan mereka tetap dalam kondisi demikian”.
Dua kalimat yang disebutkan dalam hadits nabi saw merupakan ungkapan singkat namun padat bukan dua kata yang bersinonim sama, namun setiap kata dari dua kata tersebut memiliki makna yang kita butuhkan dalam menempuh jalan dakwah ini, merupakan ringkasan dari berbagai problema yang senantiasa dihadapi dalam amal jama’i ini.
Kata pertama adalah orang-orang yang menyimpang, maknanya adalah tidak akan berjalan mulus bersama mereka para penyimpang sejak awal dakwah yang mereka tempuh.
Kata kedua adalah orang-orang yang mencela mereka, maknanya adalah kata dalam bentuk lain yaitu bahwa satu kelompok orang yang berada ditengah bagian dari dakwah, namun akhirnya lepas dari melanjutkan amal dakwah bersama mereka baik dalam kondisi menghadapi ujian yang sangat keras atau kondisi fitnah kesenangan.
Inilah yang terjadi dan dialami oleh jamaah yang penuh berkah ini, akan panjangnya perjalanan dakwah dan usianya yang panjang dan luas secara geografis dan historis, persis seperti yang disampaikan oleh nabi saw.
Hasan Al-Banna rahimahullah telah mereguk sumber yang jernih ini, dan mengarahkan dan menuntun para pengikutnya, beliau adalah mursyid pertama jamaah ini yang mengikuti sunnah nabi saw dalam mengerahkan potensi yang dimiliki, disertai dengan keikhlasan dan pengorbanan serta ikatan yang kuat pada setiap individu jamaah sehingga mereka seperti bangunan yang kokoh dan kuat, mampu memberikan kemuliaan kepada mereka yang berusaha melindunginya.
Namun Allah SWT tidak membebani kita dengan hasil; karena hasil seringkali tidak datang hasil dengan keinginan kita setelah melakukan segala upaya lalu mengakibatkan putus asa dalam jiwa, tapi datang hiburan dari teladan kita Rasulullah saw ketika menghadapi berbagai tekanan dan bahkan serangan yang puncaknya adalah ketika di Taif , meskipun dia pergi ke Taif untuk menunaikan dakwah kepada Allah dan mengharap ridha-Nya dan dan tidak mendapat respon sedikitpun dari mereka, namun beliau tetap berharap dari mereka yang mendapat petunjuk
اللهم اهدِ قومي فإنهم لا يعلمون
“Ya Allah, berikanlah kepada mereka hidayah karena mereka tidak mengtahui”
وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ
“Hai kaumku, Bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?” (Ghafir:41)
فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku Termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”. (Yunus:72)
قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ
“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah”. (Al-An’am:33)
إِنْ عَلَيْكَ إِلا الْبَلاغُ
“Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)”. (As-Syura:48)
Dan kita bersaksi bahwa nabi saw telah menyampaikan risalah dan meunaikan amanah dengan sebaik-baiknya atas apa yang ditugaskan kepadanya, dan kami memohon kepada Allah SWT untuk memberinya ganjaran terbaik kepada kami sebagaimana yang diberikan kepada nabi kepada umatnya, Nabi telah menceritakan kepada kita bahwa setiap nabi dari para utusan Allah saw akan dibangkitkan pada hari kiamat, walau tidak ada seorangpun yang merespon, seperti Nuh AS sebagai nabi yang usianya paling panjang dan salah satu dari ulul azmi, tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun namun tidak ada yang merespon dakwah beliau kecuali hanya sedikit saja.
Allah SWT memisahkan antara sebab dan akibat seperti dalam firman Allah:
فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ
“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya”. (Al-Mulk:15)
Rasulullah saw dan sahabatnya membuat parit pada saat perang ahzab dan tidak menyadari adanya peperangan yang terjadi disekitarnya, namun datang hasilnya kepada beliau berupa kemenangan dari Allah dalam bentuk angin yang keras lagi dingin, hal tersebut tidak masuk dalam perkiraan mereka. Nabi saw juga membuat strategi yang begitu detail dan bagus pada saat akan melakukan hijrah ke Madinah, namun pada saat orang-orang kafir sampai ke Gua Tsur tempat nabi dan sahabatnya bersembunyi Allah memberikan pertolongan di luar konsep dan strategi yang dibuat oleh nabi saw dengan memalingkan pandangan mata orang-orang kafir.
Dan saudara-saudara kita para mujahidin di Palestina dan lainnya yang sedang menghadapi berbagai kesulitan dan cobaan untuk menghadirkan pertolongan Allah dan kemenangan dari arah yang tidak mereka duga setelah menyempurnakan dan menunaikan sebab-sebabnya, contohnya sangatlah banyak, namun secara singkat yang kita berharap kepada Allah dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia kita dalam topik seperti ini, yaitu:
1 – Ketulusan dari niat untuk Allah semata, karena dengannya kita mendapat ganjaran, taufik dan pertolongan serta kemenangan.
2 – Ketika tercapai apa yang kita inginkan, maka kita memuji Allah SWT atas karunia dan taufik yang telah diberikan kepada kita.
3 – Jika tidak tercapai apa yang kita harapkan, kita harus yakin bahwa ganjaran telah ditetapkan untuk kita, dan memohon semoga Allah SWT mentaqdirkan kita kebaikan; dimanapun dan bagaimanapun, kemudian Allah meridhai kita.
4 – Senantiasa melakukan tugas dalam hal apapun setelah memastikan keamanan mengambil sebab-sebabnya, dan mengerahkan seluruh potensi yang menegaskan bahwa segala perbuatan hanya karena Allah, karena selama amal untuk Allah maka akan kekal dan sampai kepada-Nya.
5 – Kita masih ingat sikap Hajar yang melakukan berbagai sebab dengan lari tujuah kali, yang mana pada setiap larian tidak mendapatkan hasil yang diinginkan, namun beliau tidak putus asa dan terus berlari sehigga terwujud seperti yang diinginkan oleh Allah untuknya dari berbagai kebaikan dan anugerah.
6 – Kita masih ingat wasiat Rasulullah saw untuk kita bahwa beliau bersabda
إذا قامت القيامة وفى يد أحدكم فسيلة فليغرسها
“Jika terjadi kiamat dan di tangan salah seorang dari kamu ada benih yang bisa ditanam maka tanamlah,”
Ini adalah akhir dari dunia dan bahkan benih berarti penanaman pohon kurma yang tidak berbuah kecuali setelah bertahun-tahun lamanya, dan tidak ada hasil yang diharapkan kecuali kelanjutan dari berbuat positif dan menunaikan tugas dan menggapai ganjaran yang telah dijanjikan.
Wahai umat Islam dimana saja kalian berada…
Wahai para generasi dakwah dari ikhwan dan akhwat…
Allah telah menganugerahkan kepada kita semua untuk senantiasa ikhlas, senantiasa beramal, senantiasa berharap dan senantiasa memohon pengkabulan, karena itu teruslah kalian bergerak dan beramal di jalan dakwah, semoga Allah memberkahi kalian… semoga Allah memberikan taufik kepada kalian dan tidak menyia-nyiakan amal ibadah kalian, dan semoga Allah SWT memberikan ganjaran yang terbaik dari apa yang telah kalian lakukan…
Allah Akbar dan segala puji hanya milik Allah
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Friday, April 29, 2011

Salam alaik...
Lama jari jemari tidak mengetuk keypad menaip di sini. Minggu ini jari terlalu banyak bekerja menyiapkan KST dan KGT. Syukur Allah masih mengurniakan jari yang sihat untuk terus bekerja dan beribadat. Kalau satu hari nanti nikmat ini Allah tarik, nak menyuap sesuap nasi pun pasti perit. Nauzubillah.

Nak citer sket pasai konflik yg blaku kt ngara Islam...
Iaitu aa pasai presiden Libya Gaddafi....
Mungkin sume owang dah taw...
Ni copy dari blog kawan hehe...
Teruskan membaca....


LUAHAN PERASAAN...penunjuk perasaan memusnahkan monumen dibina kerajaan Libya di Tobruk

16 Rabiul'awal 1432H,

KAHERAH 19 Feb 11: Kezaliman mulai terserlah, apabila Perarakan Hari Kemarahan di Libya bertukar menjadi ganas semasa anggota keselamatan rejim Muammar Gaddafi menembak mati sekurang-kurangnya 24 orang, semalam.

Pertubuhan hak asasi manusia, Human Rights Watch (HRW), berkata keganasan berlaku di dua bandar utama Libya, Benghazi dan al-Baida. Memetik sumber tidak dikenali, HRW berkata, penunjuk perasaan ditembak dengan peluru hidup.

Pengarah HRW bagi rantau Timur Tengah dan Afrika Utara, Sarah Leah Whitson, berkata serangan ganas ke atas demonstrasi aman itu adalah bukti jelas kekejaman Gaddafi jika dia berdepan dengan rasa tidak puas hati rakyatnya.

“Warga Libya sepatutnya tidak perlu merisikokan diri sendiri untuk mendapatkan hak sebagai manusia,” katanya.

Pembangkang menggunakan Facebook bagi menggerakkan orang ramai menyertai perarakan Hari Kemarahan semalam, tetapi Gaddafi, 68, membalasnya dengan menganjurkan demonstrasi penyokong kerajaan di tengah Tripoli.

Ratusan orang menyertai perhimpunan di Dataran Hijau di ibu negara Libya sambil membawa sepanduk memuji-muji Gaddafi, antara lain sebagai ‘pemimpin revolusi.’ Dia turut muncul seketika sejurus selepas tengah malam dan mendapat sambutan hangat.

Tulang belakang rejim Gaddafi, Jawatankuasa Revolusi, berkata mereka tidak akan membiarkan protes rakyat menggagalkan kejayaan rakyat, mengancam keselamatan serta kestabilan negara. (IH)

Friday, April 15, 2011


Kitab rujukan: Feqh Daulah Menurut Perspektif Islam karangan Dr.Yusuf Al-Qardhawi


Politik mengikut teorinya ialah suatu ilmu yang mempunyai kepentingan dan kedudukan yang tersendiri.Dari sudut praktikalnya, ia adalah satu kerja yang mempunyai kemuliaan dan faedahnya kerana ia berkaitan dengan pentadbiran urusan makhluk dalam bentuk yang sebaiknya.

Al-Imam Ibn Al-Qaiyim telah meriwayatkan daripada Al-Imam Abu Al-Wafa' Bin 'aqil Al-Hanbali bahawa:

"Politik ialah perbuatan yang menjadikan manusia yang bersamanya lebih dekat kepada kebaikan dan jauh daripada kerosakan selagimana ia tidak bertentangan dengan syarak"


Ibn Al-Qaiyim menyatakan :

"Sesungguhnya politik yang adil tidak bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh syarak.Bahkan ia selari dengan apa yang dibawakannya.Ia merupakan satu juzuk daripadanya.Kami menamakannya sebagai politik kerana mengikut apa yang kamu istilahkan.Sesungguhnya ia sebenarnya adalah keadilan Allah dan Rasul-Nya"


Ulama' kita terdahulu telah menyebut kepentingan politik dan kelebihannya.Al-Imam Al-Ghazali telah berkata:

"Sesungguhnya dunia merupakan ladang bagi akhirat.Agama akan sempurna kecuali dengan dunia.Kerajaan dan agama adalah saudara kembar.Agama merupakan asas, pemerintahan adalah pengawalnya.Perkara yang tiada asas akan runtuh dan perkara yang tidak mempunyai pengawal akan sia-sia"


Mereka telah mentakrifkan Imamah atau Khilafah sebagai:

"Pengganti umum daripada pemilik syarak iaitu Rasulullah s.a.w dalam menjaga agama dan memerintah dunia dengan agama"


Oleh itu, Khilafah adalah penjagaan dan pemerintahan.

Nabi s.a.w adalah seorang ahli politik disamping sebagai
penyampai ajaran, guru dan juga Qadhi.Baginda adalah Ketua Negara dan Imam bagi umat.Para khulafa' Al-Rasyidin selepas baginda juga adalah ahli politik yang mengikuti sunnah dan jalan baginda.Mereka telah mentadbir umat dengan adil dan ihsan, dan memimpin mereka dengan ilmu dan iman.

Tetapi manusia pada zaman kini dan di daerah kita khususnya, disebabkan kesusahan yang menimpa mereka kerana politik dan orang politik, sama ada politik penjajah atau pemerintah yang khianat atau zalim, mereka amat membenci politik dan setiap apa yang berkaitan dengannya terutama ketika falsafah Michaevelli menguasai arena politik dan menentukan halatujunya.Sehinggakan diceritakan bahawa Syeikh Muhammad Abduh telah berkata selepas beliau merasai tipudaya politik dan permainan yang bermaksud :

" Aku berlindung dengan Allah daripada politik, perbuatan politik, orang yang berpolitik dan orang yang dipolitikkan! "


Dari sinilah musuh-musuh pemikiran Islam dan Gerakan Islam telah mengeksploitasi kebencian dan rasa marah orang ramai terhadap politik untuk mereka melabelkan Islam yang syumul lagi menyempurnakan yang dilaungkan oleh golongan Islam pada hari ini sebagai "Islam politik"

Sudah menjadi kebiasaan pada masa kini untuk menyifatkan semua sifat yang membezakan Muslim yang komitmen dengan Islam dilabelkan sebagai "politik".Ini sudah cukup untuk menjadi kejian dan menjauhkan masyarakat daripada mereka.

Beberapa orang akhawat muslimat yang memakai hijab (tudung) yang berasal dari satu kawasan di Maghribi telah pergi menemui seorang tokoh yang mempunyai kedudukan dalam agama dan politik. Mereka mengadu kepadanya mengenai beberapa kuliah Pengajian Fakulti yang mensyaratkan bagi menerima permohonan mereka agar mereka menanggalkan hijab! Mereka merayu agar mereka tidak dikenakan syarat memaksa mereka mendedahkan kepala dan memakai pakaian mini yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya.Apa yang amat mengejutkan pelajar-pelajar wanita yang beriltizam dengan Islam ini ialah jawapan lelaki yang diminta bantuan ini:

"Apa yang kamu pakai ini bukannya sekadar hijab, sesungguhnya ia adalah pakaian politik!"


Sebelum itu, seorang orientalis besar di Tunisia telah berkata :

"Sesungguhnya ia adalah pakaian kumpulan tertentu (yang membawa perpecahan kaum)!"


Seorang yang lain pula berkata tentang sembahyang Hari Raya di tanah lapang sebagai:

"Sesungguhnya ia bukan Sunnah, tatapi ia adalah sembahyang politik! "


Iktikaf dalam masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dianggap sebagai Iktikaf politik!

Kita tidak menolak kemungkinan pada suatu masa nanti sembahyang berjemaah di masjid akan dianggap sebagai sembahyang politik!

Membaca cerita tentang peperangan dalam kitab Sirah seperti Sirah Ibn Hisyam, Kitab Imta' Al-Asma' atau Kitab Al-Maghazi daripada Sahih Al-Bukhari adalah bacaan politik.

Kita juga tidak lupa pada suatu masa, di mana di antara hujah yang digunakan untuk mensabitkan kesalahan tertuduh ialah menghafal Surah Al-anfal kerana ia adalah surah jihad.Pada masa yang lain digunakan Surah ali-Imran kerana ia menceritakan tentang mihnah(tribulasi), bersabar atasnya dan kukuh padanya!!


Dari sini kita lihat bahawa Islam yang dinamakan oleh mereka yang menjadi orang Barat ini sebagai 'Islam Politik' adalah Islam yang sahih yang telah disyariatkan oleh Allah dalam Al-Quran dan Al-Sunnah dan telah dilaksanakan oleh Nabi s.a.w dan para Khulafa' Al-Rasyidin yang mana Allah tidak akan menerima agama yang selainnya.

Friday, March 18, 2011

Hukum JIHAD??

Buat semua KHALIFAH ALLAH yang bergelar MUSLIM...
Mai kita tengok yang orang dok kata jihad tak wajib....
Memang betoi tapi pada sestengah tempat la...
Sila2....baca, jgn segan2..^^


Assalamualaikum...

HUKUM Jihad memang terbagi dua, iaitu Fardu Ain dan Fardu Kifayah. Menurut Ibnul Musayyab hukum Jihad adalah Fardu Ain sedangkan menurut Jumhur Ulama hukumnya Fardu Kifayah yang dalam keadaan tertentu akan berubah menjadi Fardu Ain.

Fardu Kifayah, bagaimana?

Yang dimaksud hukum Jihad fardu kifayah, menurut jumhur ulama iaitu memerangi orang-orang kafir yang berada di negeri-negeri mereka. Makna hukum Jihad fardu kifayah ialah, jika sebahagian kaum Muslimin dalam kadar dan persediaan yang memadai, telah mengambil tanggung-jawab melaksananya, maka kewajiban itu terbebas dari seluruh kaum Muslimin. Tetapi sebaliknya jika tidak ada yang melaksananya, maka kewajiban itu tetap dan tidak gugur, dan kaum Muslimin semuanya berdosa. Makna mudahnya, kalau sorang buat yang lain dah tak payah!

“Tidaklah sama keadaan orang-orang yang duduk (tidak turut berperang) dari kalangan orang-orang yang beriman selain daripada orang-orang yang ada keuzuran dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang kerana uzur) dengan kelebihan satu darjat. Dan tiap-tiap satu (dari dua golongan itu) Allah menjanjikan dengan balasan yang baik (Syurga), dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang dan tidak ada uzur) dengan pahala yang amat besar.” (QS An-Nisa 95)

Ayat diatas menunjukan bahawa Jihad adalah fardu kifayah, maka orang yang duduk tidak berjihad tidak berdosa sementara yang lain sedang berjihad. Ketetapan ini wujud jika orang yang melaksanakan jihad sudah memadai (cukup) sedangkan jika yang melaksanakan jihad belum memadai (cukup) maka orang-orang yang tidak turut berjihad itu berdosa. Dan jihad ini diwajibkan kepada laki-laki yang baligh, berakal, sehat badannya dan mampu melaksanakan jihad. Dan ia tidak diwajibkan atas: anak-anak, hamba sahaya, perempuan, orang pincang, orang lumpuh, orang buta, orang kudung, dan orang sakit.

“Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih.” (QS Al-Fath 17)

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS At-Taubah 91)

“Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata kerana kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS At-Taubah 92)

“Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS At-Taubah 93)

Ibnu Qudamah mengatakan: “Jihad dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali setiap tahun. Maka ia wajib dilaksanakan pada setiap tahun kecuali uzur. Dan jika keperluan jihad menuntut untuk dilaksanakan lebih dari satu kali pada setiap tahun, maka jihad wajib dilaksanakan kerana fardu kifayah. Maka jihad wajib dilaksanakan selama diperlukan.”

Imam Syafi’i mengatakan : “Jika tidak dalam keadaan darurat dan tidak ada uzur, perang tidak boleh diakhirkan hingga satu tahun.”

Al-Qurtubi mengatakan: “Imam wajib mengirimkan pasukan untuk menyerbu musuh satu kali pada setiap tahun, apakah ia sendiri atau orang yang ia percayai pergi bersama mereka untuk mengajak dan menganjurkan musuh untuk masuk Islam, menolak gangguan mereka dan menzahirkan Dienullah sehingga mereka masuk Islam atau menyerahkan jizyah.”

Abu Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwaini, yang terkenal dengan panggilan Imamul Haramain mengatakan : “Jihad adalah dakwah yang bersifat memaksa, jihad wajib dilaksanakan menurut kemampuan sehingga tidak tersisa kecuali Muslim atau Musalim, dengan tidak ditentukan harus satu kali didalam setahun, dan juga tidak dinafikan sekiranya memungkinkan lebih dari satu kali. Dan apa yang dikatakan oleh para Fukaha (sekurang-kurangnya satu kali pada setiap tahun, mereka bertitik tolak dari kebiasaan bahawa harta dan pribadi(jiwa) tidak mudah untuk mempersiapkan pasukan yang memadai lebih dari satu kali dalam setahun.”

Perlu kita fahami bahawa praktek jihad yang hukumnya fardu kifayah ini adalah jihad yang secara langsung berhadapan memerangi orang-orang kafir, sedangkan jihad yang tidak secara langsung berhadapan dengan orang-orang kafir hukumnya fardu ain.

Sulaiman bin Fahd Al-Audah mengatakan, “Ibnu Hajar telah memberikan isyarat tentang kewajiban Jihad dengan makna yang lebih umum, sebagai fardu ain, maka beliau mengatakan : “Dan juga ditetapkan bahwa jenis jihad terhadap orang kafir itu fardu a’in atas setiap muslim : baik dengan tangannya, lisannya, hartanya ataupun dengan hatinya.”

Hadist-hadist yang menerangkan bahawa hukum jihad dalam makna yang umum (dengan tangan, harta atau hati) itu jihad fardu ain, antara lain:

“Barangsiapa yang mati sedangkan ia tidak berperang, dan tidak tergerak hatinya untuk berperang, maka dia mati diatas satu cabang kemunafikan.” (HR Muslim, Abu Daud, Nasai, Ahmad, Abu Awanah dan Baihaqi)

“Sesiapa yang tidak berperang atau tidak membantu persiapan orang yang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, niscaya Allah timpakan kepadanya kegoncangan.” Yazid bin Abdu Rabbihi berkata : “Didalam hadist yang diriwayatkan ada perkataan “sebelum hari qiamat.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Darimi, Tabrani, Baihaqi dan Ibnu Asakir)

Dari dua hadist di atas memberitahu kita bahawa orang yang tidak berjihad, tidak membantu orang berjihad dan tidak tergerak hatinya untuk berjihad diancam dengan ancaman kematian pada satu cabang kemunafikan dan mendapat goncangan sebelum hari kiamat. Jadi orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk pergi berperang secara langsung mengahadapi orang-orang kafir, mereka hendaklah tergerak hatinya untuk berperang seperti halnya orang yang lemah dan orang yang sakit.

Sekiranya hukum jihad secara langsung berhadapan dengan orang-orang kafir sudah berubah dari fardu kifayah menjadi fardu ain, maka tidak ada yang dikecualikan lagi, siapapun perlu pergi berperang dengan apa dan cara apapun yang dapat dilakukan.



Insya Allah, lepas ni ada sambungan untuk JIHAD fardhu ain plak ok...
Jangan terlepas...
Teruskanlah mengunjungi blog ini Jazakallah...

Thursday, March 17, 2011

Apa yang di maksudkan dengan JIHAD?

Salam semua buat pegunjung yag mengunjungi blog ana...
Kali ini ana mau cerita sikit pasal JIHAD...
Kebanyakkan manusia mengambil mudah tentang JIHAD...
Mari kita teliti apa yang di maksudkan dengan JIHAD...



Akhir-akhir ini, jihad telah disalahertikan. Ia sudah dicemari padahal perkataan jihad itu sangat baik dan mulia sebab ia datang dari Tuhan, dari Rasulullah dan dari ajaran Islam yang sangat cantik, indah dan mulia. Jihad itu kalau dapat dilaksanakan dengan tepat, maka akan lahirlah syiar yang indah dalam kehidupan.

Malangnya sekarang jihad sudah dikotori oleh umat Islam sendiri. Bila dikatakan jihad, yang dibayangkan ialah bunuh orang, tembak dan bom sana sini, serangan berani mati, sabotaj dan lain-lain keganasan lagi sehingga hendak sebut perkataan jihad pun sudah malu dan rasa inferiority complex. Ini kerana orang bukan Islam sudah pandang serong dengan perkataan jihad. Umat Islam sendirilah yang sudah menyalahertikan jihad itu.

Erti jihad

Orang mengertikan jihad itu sebagai berjuang. Sebenarnya jihad bukan ertinya berjuang. Terpaksalah di sini dibahaskan dari segi lafaz atau bahasanya. Erti jihad yang asal bukannya berjuang. Cuma setelah dirumuskan intipatinya, barulah dikatakan berjuang.

Perkataan jihad itu adalah berasal dari bahasa Arab iaitu dari perkataan jahada, yajhadu, juhdan, atau jahdan atau jihaadan. Maksud jahada ialah bersungguh-sungguh menggunakan tenaga. Erti jihad dari segi bahasa pula ialah bersungguh-sungguh yang termampu mungkin mengumpulkan semua kekuatan tenaga sama ada dalam diri (akal, roh, jiwa, fizikal) mahupun di luar diri (duit ringgit, kekayaan, aset dan sebagainya). Itu erti jihad.

Ahli bahasa mengambil intipati dan kesimpulan makna lalu dibuat istilah baru iaitu berjuang. Hingga akhirnya seolah-olah itulah istilah yang tepat bagi jihad. Istilah asalnya sudah tidak diketahui lagi. Maka kita pun terbawa sama, terpaksa mengikut trend mereka. Jika tidak, bila kita hendak mengajak berjihad, kita terpaksa berkata, “Mari kita bersungguh-sungguh kumpulkan tenaga.” Pelik pula bunyinya. Sebaliknya kalau kita kata, “Mari kita berjuang,” maka orang terus faham.

Takrif jihad

Seterusnya apa pula hubungkait erti jihad di atas dengan maksud jihad dalam erti yang kedua. Di sini kita bawa satu cerita sejarah. Pernah dalam satu pertemuan antara Rasulullah dan Sahabat berlakulah dialog yang lebih kurangnya begini:

Sahabat berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah seorang yang berjuang kerana marahkan sesuatu puak itu dikatakan jihad fisabilillah?”

“Tidak. Itu tidak termasuk jihad fisabilillah.”

“Apakah seorang yang berjuang kerana tunjuk berani itu jihad fisabilillah?” tanya Sahabat lagi.

“Tidak,” jawab Rasulullah.

“Apakah berjuang fisabilillah itu berjihad kerana bangsa?”

“Bukan.”

“Kalau begitu, ya Rasulullah, apa itu jihad fisabilillah?”

“Berjihad fisabilillah itu ialah berjuang di jalan Allah untuk menegakkan kalimah Allah hingga menjadi tinggi. Jihad itu ialah untuk meninggikan kalimah Allah.”

Di sini baru kita faham, ajaran Allah atau ajaran Islam itu adalah dari satu kalimah iaitu: “Asyhadu allaa ilaaha ilallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.”

Pintu Islam ialah kalimah syahadah. Maka siapa yang berjuang bagi meninggikan dua kalimah syahadah agar diterima orang, itulah berjuang. Bagi orang yang sudah syahadah, kita berjuang agar mereka mengekalkannya. Manakala orang yang belum syahadah, kita berjuang agar mereka mengucapkannya, ertinya sampai mereka masuk Islam. Ini baru takrif dari segi perkataan-perkataan, belum dihurai isinya yang lebih mendalam lagi.


Isi jihad

Syahadah itu adalah wadah. Ia ibarat bakul. Jadi apa yang kita hendak perjuangkan ialah apa yang ada dalam wadah itu. Kalau tidak ada wadah atau bakul itu, macam mana hendak masukkan barang. Ertinya segala-galanya bertolak dari kalimah syahadah.

Apakah isi bagi dua kalimah syahadah itu? Di sini kita ambil yang terpokok sahaja iaitu iman, Islam dan ihsan. Rupanya dalam bakul dua kalimah syahadah itu, isinya yang terpenting ada tiga yakni iman (aqidah), Islam (syariat) dan ihsan (hakikat atau tasawuf). Jadi umat Islam yang berjuang itu ibarat membawa bakul yang ada tiga benda tadi ke pasar, ke kampung, ke bandar.

“Mari, mari! Belilah apa yang saya bawa ini.”

Kita berjuang seolah-olah membawa bakul yang berisi iman, Islam dan ihsan itu lalu menjaja-jajanya. Kita pergi membawa mesej dari Tuhan untuk menyampaikannya kepada manusia secara percuma.

Iman itu pula, ia bukan seketul atau sebiji tetapi ia juga merupakan satu bekas yang di dalamnya mengandungi hal-hal yang berkaitan dengan iman yang merupakan pakej iman. Di situ ada keyakinan dan sebagainya.

Bila dikatakan Islam, itulah syariat. Syariat pula tentulah banyak. Ada fardhu ain, fardhu kifayah, wajib dan sunat. Ada pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dakwah, pentadbiran dan lain-lain lagi.

Begitu juga ihsan. Di dalam bakul ihsan itu ada ilmu hakikat dan ilmu rasa. Yakni penghayatan kita pada Tuhan seperti rasa takut, redha, rasa hamba dan seterusnya.

Jadi orang yang berjuang; keluar dari pagi sampai petang baru pulang; dia membawa bakul maknawi yakni “Laa ilaaha illallah, muhammadur rasulullah”. Dalam bakul itu macam-macam pula isinya yang terdiri dari iman, Islam dan ihsan. Kalau hendak ditamsilkan orang berjuang itu, ibarat orang yang berjual ikan dan sayur. Pergi dari rumah ke rumah dan berkata: “Mari beli ikan. Mari beli sayur!” Maka orang yang berjuang pun hakikatnya menjaja juga. “Mari beli iman, Islam dan ihsan!”

Itulah erti jihad atau berjuang di jalan Tuhan. Selain itu, ia dikira berjuang pada jalan syaitan. Justeru itu mengapa berjuang sampai bunuh orang? Ledak bom sana sini. Itu syaitan yang ajar. Itu bukan mati syahid tetapi mati sakit. Berjuang ialah hendak beri sesuatu yang baik pada orang.

Natijah jihad

Bilamana kita sudah pandai menjaja ‘barang’ Tuhan dengan bijaksana dan dengan cara yang betul maka berebut-rebutlah orang membelinya. Bila orang membeli dengan pakejnya iaitu iman, Islam dan ihsan, maka nampaklah syiar-syiar Tuhan pada peribadi orang itu. Kalau berlaku pada satu kelompok manusia maka lagi terserlah syiar Tuhan pada kelompok manusia itu. Keindahannya dapat dilihat pada pendidikan, pada ekonomi, pada kebudayaan, pada pentadbirannya, pada ibadah dan pada akhlaknya. Nampak indah, nampak kebesaran dan kekuasaan Tuhan.

Apabila tiga pakej ini diterima dan dihayati, maka akan terserlah kecantikannya. Contohnya:

Dalam bidang pendidikan, guru dan murid hormat-menghormati. Guru bagaikan seorang ayah yang sangat sayang kepada anak-anaknya.
Dalam rumah tangga pula, nampak syiar Tuhan yang mana rumah tangga itu harmoni dan berkasih sayang. Hasil membeli barang Tuhan tadi, nampaklah anak hormat kepada ibu bapa, isteri taat, suami bertanggungjawab, sama-sama beribadah dan membesarkan Tuhan serta syariat-Nya.
Nampak pula syiar pada ekonomi di mana berlakunya tolak ansur, ada khidmat, ada kasih sayang antara satu sama lain, penjual perlu kepada pembeli dan pembeli perlu kepada penjual.
Nampak kehidupan yang begitu indah dan cantik. Nampak dalam masyarakat berlaku kasih sayang. Lahir perpaduan, kesatuan, kerjasama dan bekerjasama.
Begitu juga pada pentadbiran. Nampak indahnya pentadbiran.
Begitulah seterusnya di sudut-sudut lain, akan terserlah keindahannya kerana orang yang berjuang pada jalan Allah berjaya menjual barangnya kepada orang ramai iaitu iman, Islam dan ihsan. Ibarat orang dapat makan makanan berkhasiat, dia nampak sihat dan badannya kuat. Tidak terkena penyakit atau tidak sakit. Hidupnya selesa. Itulah yang dinamakan syiar.

Syiar dapat dilihat oleh mata pada keindahan hidup. Hasil orang berjuang menjual iman, Islam dan ihsan maka manusia atau masyarakat menjadi baik, berakhlak, berkasih sayang dan bersatu padu. Nampak syiarnya dan nampak kebesaran Tuhan. Tuhan berfirman:

Maksudnya: “Barang siapa membesarkan syiar-syiar Tuhan, itulah dari hati yang bertaqwa.” (Al Haj: 32)

Jadi yang dikatakan jihad atau berjuang itu ialah supaya orang terima ajaran Tuhan yang tiga perkara tadi. Hasilnya orang nampak syiar Tuhan di tengah masyarakat. Natijahnya, barang siapa yang berjuang hingga nampak syiar Tuhan, itulah yang dikatakan berjuang di jalan Allah.

Berjuang di jalan Allah mana ada berbunuhan, pancung orang, ledak bom sana sini bahkan perkataan yang kasar pun tidak ada. Kalau cakap kasar, tidak akan laku iman, Islam dan ihsan yang kita jual itu. Kalau kita jual dengan sombong, angkuh, ganas, tanpa akhlak dan tidak jaga lidah, macam mana Islam hendak laku? Orang tidak akan terima agama Tuhan yang begitu cantik itu jika kita berjuang dengan ganas, secara militan dan tidak ada akhlak.

Jadi berjuang pada jalan Tuhan itu ialah hendak bangunkan syiar Tuhan. Supaya syiar itu berlaku dalam kehidupan, dalam ibadah, dalam ekonomi, kebudayaan dan masyarakat. Hari ini orang berjuang; sekalipun atas nama jemaah Islam; tidak nampak syiar Tuhan itu. Tidak nampak hasilnya seperti ibadahnya berdisiplin, berkasih sayang, lahir perniagaan atas dasar khidmat dan bertolak ansur dan lain-lain. Sebab mereka menjual barang Tuhan dengan ganas, menzalim, menindas dan kasar. Akibatnya barang Tuhan tidak laku.


Peringkat jihad

Jihad atau berjuang itu banyak peringkat. Di antaranya:

Jihad kepada orang kafir supaya dia terima dua kalimah syahadah dan masuk Islam. Selepas itu dididik berasur-ansur supaya meningkat iman, Islam dan ihsannya sehingga lahirlah syiar-syiar dalam kehidupannya. Tidaklah berjuang dengan orang kafir itu sampai hendak bunuh dia.
Terhadap orang Islam, iaitu setelah mereka terima pakej iman, Islam dan ihsan itu, mungkin mereka jahil. Mungkin mereka tidak tahu bagaimana hendak amalkan. Maka berjuang terhadap orang Islam adalah agar mereka dapat sempurnakan amalan ketiga-tiga pakej itu. Dalam kata-kata lain, berjuang terhadap orang Islam adalah agar meningkat Islam mereka.
Ada dua lagi perjuangan yang tidak nampak iaitu perjuangan terhadap nafsu dan perjuangan terhadap syaitan. Sebagaimana yang telah dinyatakan sebelum ini, erti jihad itu ialah bersungguh-sungguh mengumpulkan tenaga. Bagaimana tenaga itu hendak dijadikan alat. Kalau nafsu, bagaimana hendak menggunakan tenaga itu untuk membendung nafsu ammarah sehingga meningkat jadi lawwamah. Setelah itu hendak bendung nafsu lawwamah itu hingga menjadi mulhamah dan seterusnya.
Begitu juga kita menghimpunkan tenaga bersungguh-sungguh untuk membendung pengaruh syaitan. Pengaruh syaitan ini lebih mudah diperangi. Yakni setelah nafsu dapat diperangi, dapat ditundukkan, maka automatik jalan syaitan dapat ditumpaskan. Apabila nafsu ditumpaskan, mudahlah untuk membendung syaitan sebab nafsu itu highway bagi syaitan. Kalau highway sudah ditutup, syaitan tidak boleh melaluinya. Begitulah caranya berjuang terhadap nafsu dan syaitan.

Kalau begitu, fahamlah kita bahawa erti jihad itu ialah menegakkan kalimah Allah, yang mana kalimah Allah ada tiga perkara asas iaitu iman, Islam dan ihsan. Daripada tiga perkara itu dipecahkan menjadi banyak lagi dan diperjuangkan hingga orang terima. Bila orang terima dan orang amalkan maka lahirlah dalam kehidupan keindahan-keindahan Islam, yakni syiar-syiar Islam yang Tuhan kata: “Barang siapa membesarkan syiar-syiar Tuhan, itulah dari hati yang bertaqwa.”

Berjihad sama sekali tidak ada kaitan dengan militansi. Kita berjuang tidak ada hubungan dengan perang. Cuma bilamana kita berjuang seperti yang dikatakan tadi maka kalau ada orang yang hasad dengki, dia akan memerangi kita. Bukan kita yang undang, tapi orang lain yang undang.

Jadi perang itu kalaupun berlaku bukan dari kita tetapi musuh yang mengundang. Bukan salah kita tetapi salah musuh. Dalam berhadapan dengan musuh itu pun terbahagi kepada dua. Kalau dia undang perang, kita tengok dulu kekuatan kita. Kalau kita masih lemah, kita elak dulu.

Macam Rasulullah, masa masih lemah, baginda tidak lawan. Sebaliknya baginda menyuruh Sahabat-Sahabat berpindah dari Mekah ke Habsyah dan baginda sendiri pernah pergi ke Thaif.

Begitu juga sewaktu berhijrah ke Madinah, umat Islam masih lemah lagi. Setelah ada kekuatan, bila orang undang perang, baru Rasulullah berperang. Selagi belum ada kekuatan, baginda elak dulu. Sebaliknya sekarang, kita yang undang orang perang. Kalau kita kuat boleh tahan tapi kita cuma guna batu dan lastik, hendak melawan musuh yang ada kereta kebal!

Itulah gambaran erti jihad atau erti berjuang. Cantik dan indah tetapi ulama pun sudah tidak faham. Berapa ramai orang hari ini yang berjuang secara militan. Manakala yang tidak militan pula, hasilnya tidak ada. Dia memperjuangkan hak orang, dia kata dia perjuangkan Islam. Dia perjuangkan ideologi, dia kata dia perjuangkan Islam. Dia perjuangkan kefahaman ciptaan manusia dan isme, dia kata dia perjuangkan hak Tuhan. Kedua-duanya tidak betul. Kedua-duanya tidak akan menghasilkan apa-apa.

di petik dari minda ikhwan global...

INYSAALLAH!! moga2 Allah memberi keredhaan kepada kita

Hanya Sampingan..^_^

:::Andai Bertemu dan Berpisah Kerana Allah:::

Ulama Pewaris Nabi

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More